やってみたところ以外に、やさしかった!!!Dare to success

Dear ミルダさん

後4日でインドネシアに帰っちゃうんだね。せっかく出会えたのに寂しいなー。

日本での生活はどうだった?楽しかった?大変だった?勉強に仕事に大変だったと思うけど、”楽しい”が少しでも多く残っているといいなー。

インドネシアに帰っても日本語の勉強が頑張ってね。私も試験頑張るよ!

いつかインドネシアに会えたらいいな。

Let’s keep in touch!

2009.09.26

MoMo

Dear Milda,

Tinggal empat hari lagi akan pulang ke Indonesia ya… Padahal telah saling bertemu dan mengenal, sedihnya…

Gimana kehidupan selama di Jepang? Menyenangkan? Berat dan sulit? Mungkin untuk belajar dan pekerjaan sulit, tetapi kalau ada “hal menyenangkan” meskipun sedikit bagus sekali.

Walaupun sudah pulang ke Indonesia, tetap semangat belajar Bahasa Jepang ya. Saya juga akan bersemangat dalam ujian lho !

Jika suatu hari bisa ketemu di Indonesia, bagusnya…

Tetap jaga kontak ya!

26-09-2009

MoMo

Dari e-mail (メールから)

無事に帰国できたようでよかった!
インドネシアで地震があったから心配してたんだ。
大丈夫?

Untunglah kalau bisa pulang dengan selamat! Saya khawatir karena terjadi gempa di Indonesia. Tidak apa-apa?

Dari e-mail (またメールから)

返信がないから、ちょっと心配。
地震は大丈夫かな?

私は18日に試験が終わったよ!
試験の日まで、毎日勉強してたから、今は毎日遊んでるよ

またメールするね!

Saya sedikit khawatir karena tidak ada balasan. Tidak apa-apa karena gempa kan?

Saya sudah selesai ikutan ujian tanggal 18 kemaren lho! Karena terus-terusan belajar sampai hari ujian, sekarang saya main melulu.

Nanti saya kirim e-mai lagi ya!

Never, Memory in Japan is unforgettable. Selalu hadir bayanganku sendiri saat memesan karcis di Kippu uriba atau mesin tempat penjualan tiket. Bayanganku saat menunggu kedatangan kereta di platform stasiun. Bayanganku yang mengabadikan pohon, langit, gunung, sungai, jalanan dan pemandangan Jepang. Bayanganku yang keliling supermarket mencari makanan halal. Bayanganku yang bersepeda sambil menghirup udara pagi. Bayanganku yang menggigil meski telah memakai pakaian berlapis-lapis. Bayanganku yang memasukkan uang receh ke dalam mesin  untuk menabung. Bayanganku bersama Bibi-bibi Jepang se-Aqidah saat melepas kepergianku dengan ber-Barbeque di pinggir sungai Chikuma. Bayanganku yang begitu menikmati sapaan bunga sakura di Kyoto Imperial Palace ke wajahku.

Dan tetap terngiang obrolanku bersama Momo di bulan semi itu. Apapun yang ada dalam pikiran kami. Sepanjang jalan di mobilnya. Aku masih bisa melihat dan mendengar jelas obrolan kita di malam hari saat menikmati kerlip cahaya Hotaru di Maruko machi. Aku masih ingat Momo menyempatkan diri untuk menemuiku selepas kerja. Kita ngobrol apapun di Saizeriya. Padahal kulihat kau lelah. Terima kasih untuk novel dan kartu posnya. Kenangan itu selalu hadir baik saat ku sadar maupun terlelap.

モモ、小説と葉書はありがとう...他の友達も。ヒョナ、写真はありがとう...ウセイ、FBで写真を送ってくれてありがとう...テゴン、のりとべヨンジュンの写真はありがとう...シンタイヘイ、中国の人形はありはとう...アイシャさん、日本語でのクルアンはありがとう...キラン、ボルペンとノートと手紙はありがとう...マハク、かばんと紙で紫の蝶はありがとう...I Love You ALL

いつかまた日本へ行くと信じてるよ!きっと

I Will back to Japan. Of course

November 3rd, 2009 at 7:04 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Adik-adik

ミルダさん

この数ヶ月の間に、色々教えてくれて、どうもありがとうございました。初めての頃は本当にイスラームのことがぜんぜん分からなくて、質問に上手く答えられなくて、スミマセンでした。でも何回か勉強会をやっているうちにイスラームの基礎のことが分かるようになってきたと思うし、サラーの仕方も覚えられることができました。

ミルダさんはパソコンで説明してくれたり、ホワイトボードで書いてくれたりしてくれたおかげで、分かりやすく自分の中に入ってきました。だけど、時には、サボっちゃって、あんまりミルダさんの話を聞いてなかったり、ノートもしっかり書かないとかもあって、本当にスミマセン。思うと、そんな日が何回もあったような気がします。ごめんなさい。でもそんなことがあってもしっかりと教えてくれて、ありがとうございました。インドネシアに行ってしまっても、元気でいてください。そして、また日本へ来て下さい。

その時はいつでも待っています。

たくさんの事を教えていただいて、本当にありがとうございました。

キランより

Sepucuk surat yang baru aku terima dari salah seorang adikku di sini. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih bermakna seperti ini:

Teh Milda

Terima kasih telah mengajarkan banyak hal selama beberapa bulan ini. Di awal-awal, mohon maaf karena sama sekali tidak tahu tentang Islam, juga tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Namun, setelah beberapa kali belajar saya menjadi paham ilmu-ilmu dasar Islam dan cara mengerjakan Sholat.

Teh Milda menjelaskan dengan menggunakan computer, menulis di whiteboard, sehingga mudah dipahami. Tapi mohon maaf, terkadang, saya meleng tidak begitu menyimak perkataan Teteh Milda , tidak mencatat dengan baik. Kalau dipikir, rasanya hari-hari seperti itu terulang beberapa kali. Mohon maaf. Akan tetapi, meski terjadi demikian, terima kasih tetap mengajari kami dengan baik. Walaupun akan pergi ke Indonesia, jaga kesehatan ya. Terus, datang lagi ke Jepang ya. Kami selalu menunggu.

Terima kasih sekali telah mengajarkan kami banyak hal.

Dari Kiran

Adikku ini masih kelas enam sekolah dasar. Kakaknya kelas tiga sekolah menengah. Aku masih ingat ketika pertama kali berhadapan dengan mereka. Darimana harus memulai, bagaimana cara menyampaikan yang disesuaikan dengan kemampuanku sendiri. Ketika aku coba tanya ini itu, satu hal yang mulai kumengerti. Meskipun ketika telah mengerti, terasa ada ludah pahit yang kutelan. Satu hal itu adalah, pengetahuan mereka tentang Islam adalah nol. Bagaimana tidak pahit, di tengah usia mereka yang mendekati bahkan telah ada yang baligh, saat mereka harus mempertanggung jawabkan sendiri setiap perbuatan dan perkataan mereka, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dijauhi. Mereka tidak tahu apa yg harus dibaca, apa makna bacaan itu.

Aku memutar otak bagaimana caranya bisa menyampaikan ilmu Islam yang sedikit sekali kuketahui, dengan keterbatasan kemampuan yang kumiliki. Bila penjelasan tak bisa terurai dalam kata-kata, maka papan, dan spidol bekerja. Sendiri pun merasa bosan dengan cara penyampaian yang sama, power point pun ikut meramaikan. Bicara satu pihak selama satu atau satu setengah jam, baju bagian punggung basah. Keringat sebesar biji jagung tak hentinya bercucuran. Serasa seharian berpidato di depan khalayak ramai. Aku melihat kening mereka yang sesekali mengerut. Merasa sudah sebaik mungkin menjelaskan, ketika ditanya balik malah salah tangkap. Bila sudah pada batas itu, maka tangan dan kaki pun beraksi. Alias bahasa tubuh.

Adik-adikku, ketika pertama kali aku tanya suka mengerjakan sholat, tentu jawabannya tidak. Maka kugiring mereka berwudhu, memanjangkan lengan baju, menyuruh mereka mengikuti gerakanku. Mengejakan pada mereka bacaan sholat ayat per ayat. Hingga perlahan kubujuk mereka menjaga kewajiban lima waktu itu. Awal-awal tentu tidak langsung rajin. Berbenturan dengan jadwal sekolah, dsb.

Adik-adikku, saat kutanya sejak kapan berpuasa, jawabannya tidak pernah. Tahu tata cara sholat ‘ied? Tentu tidak.

Adik-adikku, bila ditanya tentang pengetahuan Islam, boleh jadi tak tahu apa-apa. Akan tetapi, bila ditanya mengenai keyakinan mereka memilih Islam, kulihat kemantapan mereka saat menjawab. Barangkali itu pula yang membuat mereka cepat berkembang.

Selain miris, ada rasa syukur yang menyelinap ke ruang hatiku. Bersyukur karena di masa kecil ada ustadz dan ustadzah yang mengejakan alif ba tsa. Bersyukur ada orang tua yang membiasakan sholat lima waktu. Bersyukur ada surau. Yang kusedihkan adalah minimnya pengajar Islam di sini. Teman-temanku, bila negeri Jepang ini menyilaukanmu, tersilaulah karena pahala amalan ini. Tak sedikit yang merasa kehausan, namun penawar dahaga Islam itu sungguh terbatas adanya. Adik-adikku, semoga ALLOH memberikan pengganti yang jauh lebih baik dariku.

Ueda, 27 September 2009

September 27th, 2009 at 8:03 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Mencintai yang Tak Pernah Dilirik

“ Agama adalah pembicaraan yang paling saya benci. Tentu karena ketika telah beragama harus mengikuti segala macam peraturannya. Jangankan Islam, agama lain pun tidak pernah saya lirik. keberIslaman saya bermula karena pernikahan. Saya tidak peduli meski harus menjadi seorang muslim, yang terpenting bisa menikah. Meski saat itu saya telah menjadi muslim, saya tidak pernah menghiraukan kewajiban-kewajiban. Hingga suatu hari… Ketika suami mengajak bertandang ke Pakistan. Di sana saya melihat salah seorang saudara suami saya yang sudah sepuh. Tak peduli usia yang telah senja, tak peduli raga yang telah renta, ia masih rajin bekerja. Saat saya tahu motivasi apa yang membuatnya demikian, sungguh saya tidak bisa menutupi rasa kagum. Beliau ingin anak-cucunya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Beliau ingin anak-cucunya bisa berguna untuk orang banyak. Itulah motivasi yang beliau miliki sehingga memiliki kekuatan sedemikian berlimpahnya. Selain, karena Islam memang mengajarkan demikian.”

“Kini, sholat lima waktu yang sering dilalaikan, tidak pernah dilewati lagi. Jika terlewati, serasa ada yang hilang. Kini, saya tidak hanya mencukupkan diri dengan menunaikan yang wajib, tetapi perlahan menjalankan yang sunnah pula. Saya sadar belum sempurna, tapi saya akan berusaha sejauh yang saya bisa. Saya bersyukur bisa menjadi muslim. Bertemu dengan orang-orang yang mengagumkan. Mempelajari ajaran-ajaran yang menakjubkan.”

Itu adalah cerita dari teman sepengajian di mesjid baru-baru ini. Benar, ajaran Islam memang bisa melahirkan orang-orang yang menakjubkan bila ajaran itu diajarkan. Betapa tidak, dalam waktu yang sama, manusia diajarkan untuk berusaha hingga batas kemampuannya juga berpasrah atas segala keputusan Tuhannya. Bila dunia kagum akan semangat dan kesungguhan orang Jepang, maka sungguh dunia akan lebih dibuat takjub bila bertemu dengan orang-orang Islam yang ta’at itu. Bila orang Jepang bersungguh-sungguh berdasar demi diri sendiri, keluarga dan negaranya, maka orang Islam bersandar pada sesuatu yang lebih mulia lebih luas cakupannya. Demi bukti sumpahnya sebagai hamba, demi keluarga, demi dunia, demi Tuhannya.

Sungguh aku semakin teryakinkan akan tulisan di bab kedua pada sebuah kitab. Kehidupan manusia, dilingkupi oleh dua lingkaran. Lingkaran dimana hanya berlaku Tangan Tuhan, dan lingkaran dimana selain Tangan Tuhan, juga ada factor tangan manusia. Semuanya berjalan seimbang. Sungguh bukan hal yang berlebihan bila saudariku itu kini mencintai apa yang tak pernah ia lirik sebelumnya, Islam.

Di sini, orang-orang Jepang yang menjadi muslim memang mayoritas karena pernikahan. Terlepas bagaimana pun awal jalan hidayah yang mereka tempuh, namun aku kagum dan mencintai orang-orang yang kulihat di depan mataku ini. Keistiqomahan mereka, usaha mereka mengenal Islam di tengah kekeringan ilmu, patut diacungi jempol. Bukankah kita pun begitu? Awal keberislaman memang bukan pencarian sendiri. Namun yang menjadi masalah, sejauh mana kita berusaha mengenal Islam dan menggenggamnya sepenuh hati, iya kan?

Tekuno Sakaki, Ramadhan 1430 H

September 25th, 2009 at 7:49 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Dalam Hitungan Hari

Dalam hitungan hari sepeda yang kukayuh kemana-mana dengan aman dan udara bersih, akan berganti dengan langkah kaki. Bersepeda dirasa tidak aman, pejalan kaki bukan raja. Menghalangi jalan

Dalam hitungan hari pemandangan jalanan yang teratur akan berubah menjadi kesemrawutan dan kebisingan

Dalam hitungan hari perjalanan waktu dan dana yang terukur akan berubah menjadi tak karuan. Ngetem, macet. Janjian tidak bisa dipastikan.

Dalam hitungan hari makanan yang terhitung kandungan kalori, terjamin higienitasnya akan berubah menjadi campuran kepulan asap, debu bapak tukang sapu jalan, minyak yang dipakai berkali-kali, piring yang dibilas air yang tak diganti seharian

Dalam hitungan hari segala jasa yang dilayani mesin berubah menjadi manusia

Dalam hitungan hari internet yang terhubung sekejap akan berubah menjadi penantian yang berkejap-kejap

Dalam hitungan hari kereta yang kusukai sebagai alat transportasi berubah menjadi angkutan umum yang berdesakan, campuran keringat. Kereta, mungkin tak pernah menjadi salah satu alat transportasi yang kuperhitungkan sedikitpun

Dalam hitungan hari, tas, dompet, handphone yang bisa disimpan sekenanya menjadi harus dilapis berkali-kali, didekap sangat erat

Dalam hitungan hari barang yang tertinggal, terjatuh atau hilang kemungkinan besar ditemukan menjadi kemungkinan besar direlakan

Dalam hitungan hari kata-kata asing di telinga yang singgah setiap hari menjadi sesekali

Dalam hitungan hari orang-orang yang telah berada di hati menjadi entah kapan bisa ditemui kembali

Dalam hitungan hari tempat-tempat yang kukagumi menjadi memori

Dalam hitungan hari pula…

Orang-orang yang luput dari pandangan mata akan kembali kujumpa

Dalam hitungan hari pula, kitab-kitab yang tersimpan rapi di lemari akan kembali kukaji

Dalam hitungan hari tempat-tempat yang kurindukan akan kusinggahi. Mesjid DT, semilir angin di Al-Furqon

Dalam hitungan hari atmosfer keimanan yang kental akan kurasa kembali

Ueda, 25 September 2009 21:00 WJ

September 25th, 2009 at 5:14 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Curhat Hari Ini

Jum’at, 11 September 2009

“Ceklek”. Bunyi pintu kamar yang kuncinya telah terbuka. Aku sendiri yang membukanya. Terucap lemah atau lebih sering dalam hati salam dan hampir tidak pernah ada suara jawaban terdengar. Seperti biasa, kamarku membisu. Kering akan jawaban salam.

Tanpa komando, ujung telunjuk menekan satu tombol ON pada seonggok benda berwarna hitam berbentuk segiempat. Benda ajaib yang bisa langsung menampilkan sebuah halaman. Aku klik tombol sign in dan bermunculan lah status dari sederetan teman-teman nyata dan maya-ku yang telah meng-up date kegiatan, apa yang mereka rasakan apa yang mereka pikirkan. Ada yang dalam bahagia, ada yang dalam kebingungan, ada yang dalam usaha, ada yang dalam memetik buah manis dari usahanya, atau ada pula yang sedang menelan pahit buah dari usahanya.

Tak ingin teracuni dengan energi negative, aku buka-buka saja teman-teman yang sedang dalam usaha, kegiatan positif. Aku yang kini dalam mendung, merengut. Kubaca info, latar belakang studi, pengalaman kerja, foto-foto…

Aku kira akan membangkitkan asa yang meluput karena kekecewaan yang sedang dihadapi. Justru kecemburuan, keirian yang hinggap di hati. Aku iri akan prestasi yang berhasil mereka torehkan dalam sejarah hidup mereka. Menang lomba A setahun ke Negeri A semasa kuliah. Tidak lama selepas kuliah mendapat tawaran pekerjaan, diberangkatkan kembali negeri B untuk mengikuti training selama tiga bulan. Dua tahun bekerja di perusahaan, ditawari mengajar di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Diterima. Satu tahun setengah mengajar, mendapat beasiswa melanjutkan S2 lagi di Negeri C.

Beasiswa S2 S3, lulus predikat cumlaude, pekerjaan yang diharapkan orang-orang, berangkat ke negeri A negeri B… keberhasilan yang bertubi-tubi…buah manis yang berkali-kali dipetik… Mengapa orang lain begitu mudah meraihnya?

Aku baca-baca kembali daftar mimpi hasil coretanku sendiri di catatan pribadiku. Aku renungi usaha dan do’aku. Mengapa aku malah merasa tersiksa dengan mimpi-mimpi yang aku torehkan sendiri? Apakah ini adalah ujian sejauh mana aku teguh mempertahankan mimpi-mimpi yang kudekap ini? Ataukah aku salah menuliskan mimpi karena sudah salah sedari berniat?

Kurenungkan kembali niat dari setiap butir mimpi-mimpiku. Untuk apa? Untuk siapa? Mimpi yang membuatku merasa tersiksa itu, adakah karena ambisi-ku saja? Adakah karena sebuah citra baik orang-orang saja?

Kutelusuri kembali satu per satu niat dari mimpi-mimpiku…

ALLOH-ku, bersihkanlah jika terkotori. Jaga aku untuk tetap berada dalam koridor karena ingin menggapai Ridho-Mu saja. Jaga niat mimpi-mimpiku hanya dalam keimanan terhadapMu saja. Jaga mimpi-mimpiku agar hanya bisa memberikan ‘sesuatu’ untuk Islam saja. Jika scenario keberhasilan dan kegagalan itu sedang mengujiku, biarkan agar aku semakin mengenal dan dekat denganMu.

***

Aku buka profil temanku yang lain dari kehidupan yang berbeda. Kerumitan dan teka-teki hidup. Namun aku bangga, karena mereka menyikapinya dengan sederhana. Tak tersibukkan dengan apa yg membuat pikiranku kini sibuk olehnya. Cukup dengan berusaha menjalani hidup sesuai scenario ALLOH. Padahal hidup mereka lebih rumit dari aku. Aku bangga pada mereka atas prestasi yang dampaknya bukan pribadi. Prestasi jam’i.

Kembali aku merasa diri terlempar pada sudut ruang yang paling kosong. Terpuruk. Lantas apa yang sedang kulakukan?

Ilmuku, adakah berarti untuk umat? Adakah pendorong terciptanya kehidupan mulia meski selangkah? Adakah bukti kecintaanku pada ALLOH?

Harus kubenahi lagi rangkaian mimpi-mimpiku, jalan-jalan menggapainya… do’a-do’a yang dipanjatkan. Mungkin ada yang ditambahkan, mungkin ada yang dipercepat , mungkin ada yang ditunda, mungkin pula ada yang dihapus…

Biarkan aku ikhlas. Biarkan Skenario-Mu yang berjalan…

September 10th, 2009 at 11:58 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

siapakah dia??

pada dasarnya dia adalah seorang dokter.

tetapi dia menjadi pembantu di rumahnya sendiri…

dia juga menjadi guru bagi banyak orang..

dan semasa dia hidup, banyak gunung-gunung terkenal saat itu,

namun ketika dia mati,,gunung-gunung itu tersapu oleh air..

siapakah dia??

————————–

dia adalah IBU.

pada dasarnya dia adalah seorang dokter:

ibu adalah dokter bagi anak-anaknya, bagi suaminya, bagi keluarganya.

ibu memilihkan makanan dan pakaian terbaik bagi anak-anaknya, mencegahnya dari bahaya penyakit.

melindungi dan merawatnya dengan penuh kasih ketika sakit..

ibu adalah dokter,,,

tetapi dia menjadi pembantu di rumahnya sendiri:

ibu rela memberikan pakaian dan selimutnya untuk anaknya yang kedinginan, walaupun kaki dan tangannya telah terasa sangat pilu dan ngilu..

ibu rela memberikan makanannya kepada anaknya, walau dia sangat lapar..

ibu rela menjaga anaknya di tengah malam, walau pun dia sangat ngantuk..

ibu sangat rela melakukan apa saja,, tanpa imbalan,,,

dia juga menjadi guru bagi banyak orang:

bagaimana cara makan? bagaimana cara berpakaian?

ibu yang ajarkan semuanya pada anaknya..

cara berjalan,,jalan mengucap kata..

ibu dengan sabar ajarkan perlahan..

ibu adalah guru..

dan semasa dia hidup, banyak gunung-gunung terkenal saat itu,

namun ketika dia mati,,gunung-gunung itu tersapu oleh air:

ibu adalah gunung bagi anak-anaknya. tempat berlatih untuk keluh kesah.

bergantung pada pohon kesabaran

bermandikan air terjun kasih sayang

bertapakkan jalan-jalan kemandirian..

namun ketika ibu meninggal,,gunung itu tersapu air mata anak-anaknya.

cintanya larut dalam samudra luas tiada batas…

dialah IBU

(Perkataan Dae Jang Geum di hadapan Ibu Suri, drama Korea)

September 5th, 2009 at 8:03 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Begitu ya Rabb?

Ternyata ada masalah di sekitarku. Kemana saja aku selama ini?

Mengapa aku tidak tahu? Mengapa aku tidak peduli?

Aku kalah dengan saudaraku yang lain.

Putra-putri Palestina berjuang melempari musuh Israel dengan kerikil

Muslimah Afghanistan melawan mempertahankan kehormatan diri

Mahasiswa-mahasiswi di Poso berjuang melawan orang-orang kafir yang menghina Nabi

Pemuda dan gadis Kalimantan meradang karena Perda berbau Kristenisasi akan diterapkan

Dimana aku selama ini, mana kepedulianku terhadap saudaraku?

Atau jangan-jangan karena aku lemah?

Bahkan untuk menerima cobaan yang menimpa diri

Cobaan sebagaimana muslim-muslimah di Aceh

Dalam sekejap mata kehilangan harta, keluarga dan diri yang sempurna

Bisakah aku Rabb? Tetap teguh dalam keimanan layaknya mereka

Rasulku, padahal engkau ajarkan kami bahwa kami satu tubuh

Maafkan kami yang tidak menghargai pengorbananmu… perjuanganmu… Kesabaranmu…

Saat diludahi, difitnah

Engkau tetap tegar meski dua insan yang paling dicintai pergi

Paman Abu Thalib dan Khadijah sang istri

Guruku, seberapa besar aku melukaimu?

Sudahkah aku menghargaimu?

Ataukah justru aku sering menyulitkanmu?

Sahabat-sahabat, mereka yang telah mewarnai hari-hariku

Seberapa paham aku tentang mereka?

Seberapa peka aku akan apa yang mereka rasakan?

Keegoisan ini begitu pekat melekat

Seolah hidup ini abadi tiada kematian

Kematian adalah suatu keniscayaan, karena ia telah dijanjikan

Duhai jiwa…

Sadarkah engkau bahwa kelak kuburan adalah tempat persemayaman?

Sudahkah engkau siapkan malam pertamamu di alam kubur sana?

Tidakkah engkau tahu bahwa ia adalah malam yang sangat dingin mengerikan

Hingga membuat orang-orang sholeh menangis saat memikirkannya

Kau gerakkan lidahmu untuk membaca kitab suci, tetapi tingkahmu tak pernah kau selaraskan

Kau kenal setan, tapi kau jadikan teman

Kau kejar harta, tapi lupa berderma

Kau katakan ingin masuk surga, tapi tak pernah berhenti berbuat dosa

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi ALLOH jika kamu mengerjakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (as-Shaff (61): 2-3)

Duhai jiwa jangan biarkan kau menyesal kelak

Jangan kau hingga meminta masa dihidupkan kembali

Mereka menjawab, “Benar, sungguh telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan (nya) dan kami katakana, “Allah tidak menurunkan sesuatu apapun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata, “ Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”…”

Duhai ALLOH

Dengarkan do’a ini

Jadikan diri ini bersih, hingga saat menghadapMu nanti

Ringankanlah kematian kami duhai Pemilik jiwa

Jadikan hati ini ikhlas saat malaikat maut menyapa

Hingga kematian menjadi sangat indah

Kematian yang husnul khatimah… Aamiin

Bandung, 2008

July 30th, 2009 at 7:11 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Seluas apakah tanah surga tersedia untukku? Atau jangan-jangan belum ada tempat untukku? Padahal Engkau mengabari kami:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imran (3): 153)

Semenggebu apa kerinduanku terhadap surga? Setergiur apa aku akan keindahan surga?

Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terus menerus, dan buah-buahan yang banyak yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk, Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya, untuk golongan kanan,…”

Aku berucap aku cinta padaMU Rabb, namun sebergegas apa diriku saat Engkau bertanya:

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”

Seberapa sering hari-hari yang kulalui kuhiasi dengan al-Qur’an? Al-Qur’an yang kelak akan menjadi pembela. Ingin seperti apa aku nanti? Buah utruja yang rasanya enak tapi baunya harum? Ingin seperti buah kurma yang rasanya enak tapi tidak wangi? Atau seperti buah raihanah yang baunya harum tapi rasanya pahit? Atau, seperti buah handzalah yang baunya tidak harum dan rasanya pahit? Yang manakah aku?

Rosul, apa balasanku atas pengorbanan-pengorbananmu? Engkau begitu rela keluar untuk menyeru manusia. Meski caci tiada henti. Engkau ikhlas menahan lapar hingga tiga batu menindih perutmu karena kau infakkan seluruh hartamu demi Islam. Engkau tetap menelusuri jalan gurun yang panasnya melepuhkan kaki demi umat yang menantimu di Yatsrib sana. Demi Islam yang akan kau sebarkan. Demi masa depan manusia.

Rasulku, engkau tidak mengkerut saat tubuhmu yang suci dilempari kotoran. Engkau tidak merengut saat hampir seluruh kabilah menabuh genderang perang. Engkau tetap melaju dalam tertatih, terseret, tegap, berlari. Bersama orang-orang yang telah terbukti kecintaannya terhadapmu. Bersama orang-orang yang telah teruji kesetiaannya terhadapmu.

Aku rindu Khubaib yang do’anya menggentarkan musuh-musuh Alloh di detik-detik terakhir hembusan nafasnya.

Aku rindu Zaid yang tetap berucap setia pada Rasul meski ajal di depan mata.

Aku iri dengan moyangku Abu Bakar Shiddiq yang berani menginfakkan seluruh hartanya.

Aku iri pada Utsman bin Affan yang tulus menginfakkan 100 ekor unta beserta perlengkapan pada saat perang Tabuk.

Aku iri dengan Umar bin Khattab.

Aku iri pada Bunda Khadijah yang menyedekahkan seluruh hartanya di kala orang-orang menahan hartanya untuk Islam.

Aku iri dengan Bunda ‘Aisyah yang tetap lebih mengedepankan kaum papa dengan memberi roti untuk berbuka padahal ia sendiri tengah lapar.

Allohku, dengan nama apa aku akan menemuiMU?

Amalan mana yang patut kubanggakan hingga sanggup menengadahkan wajahku di hadapanMu?

Rabbku, terimalah cintaku meski tidak sempurna.

Himpun aku beserta kekasihMu dan para sahabat meski amalku tak seindah mereka…

Disampaikan saat renungan mabit bersama sahabat-sahabat tercintaku

Bandung, 2008.

July 30th, 2009 at 5:59 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

早期教育

私は早期教育に関して賛成か反対かすぐに答えられない。状況によって原因や理由など一つ一つ深く考えておかないといけない。

小さい頃から塾に子供を行かせるのは必要な場合もある。成長の段階に合わせて楽しく教えてくれれば良いと思う。例えば、大人になったらあまり困らないで身につくように小さい頃から英語を習わせている両親がいる。遊びながら英語で玩具の名前を覚えたり歌を歌ったりして楽しく感じられるのだろう。

しかし、他の子供と遊ばずに外国語の本を読ませたり無理に教えるのは賛成しかねる。人間は人に頼ることなしに生きられないものだ。子供は大人になるはずだ。社会人になったら知識を持つのみならず、人間関係に関しての能力も必要だ。

子供に様々なことを教える前にしっかり子供の必要なことを考えておこうではないか。子供だけでなく、両親も増やさないといけないと思う。そうすれば、塾へ行かせるか家で親に教えられるかは問題にならない。早く教えられると早く役に立つ可能がある。

以上の理由で、問題は教えてあげるのが早いか遅いかということではない。一番大事なのは子供の教育方法だ。子供に体験させながら自分の知識や能力も発達させるべきだ。

July 30th, 2009 at 5:01 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

人生の岐路

インドネシアでの教育制度は日本と同じだ。小学校は六年間で、中学と高校は三年間ずつだ。しかし、高校二年か三年生になると大学への進学のため、特別なクラスに入ることになっている。だから、学生達は科学か言語か社会学部か三つの中で一つを選ばないといけない。今の私もその時から始まった。

私の姉が高校生の頃から今でも科学学部は一番人気がある。なぜかというと、そのクラスに入ると大学へ進学する時専攻の選択が多くて、楽だと言われているからだ。一方で、言語か社会学部に入ると選択が少なくなって進学しにくい。それより、科学クラスに入った学生は偉い学生だと思われている。

私にとってこのことは将来のためだから両親の意見と他人の勧めもさることながら、本人の興味と希望を聞くのが必要だと思う。選択が多ければ多いほど楽になるとは言えず、かえって、もっと迷うこともある。その考えをきっかけに私は言語クラスに入ることにした。

ところが担任の先生は別の学部を勧めていた。外国語は普通の外語学院でも習えると言っていた。しかし、私の考えは違った。私が外国語を習う目標はただの能力だけでなく、その国の文化まで習いたい。それに読書が好きだというより本を読んでいる時新しい色々なことが分かるようになるのは面白いではないか。

その時から自分が選んだ道で歩いてはじめて、幸せになれることに気がついた。

July 29th, 2009 at 11:33 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink